Era informasi dan teknologi boleh canggih tapi bagi pemburu barang-barang kuno, Jl Chairil Anwar bisa jadi alternatif. Di tempat ini, Anda bebas memilih dan menawar.

Menyusuri kota Makassar, Anda tak sulit menemukan Jl Chairil Anwar.
Jalan itu sangat pendek. Hanya sekira 100 meter. Salah satu khasnya
adalah pedagang barang-barang kuno yang kini mulai jarang kita dapati di
rumah.
Saat ini Anda pasti telah menggunakan setrika listrik. Tapi apakah
Anda masih ingat kapan terakhir melihat nenek menggunakan setrika arang
saat kita masih kanak-kanak. Yap, barang seperti itu kini terasa langka.
KHUSUS YANG ANTIK. Salah satu kios di Jl Chairil Anwar yang khusus menjual barangbarang kuno dan antik.
Tapi, Anda bisa dengan mudah menemukan setrika arang yang terbuat
dari besi dan kayu. Di Jl Chairil Anwar ada tiga toko menjualnya. Satu
toko yang dijaga Neneng, dan satu lagi milik Herman. Setidaknya ada lima
toko penjual barang-barang kuno.
Satu setrika arang dihargai antara Rp250 ribu hingga Rp350 ribu.
Masih penasaran dengan benda-benda antik lainnya. Di tempat Neneng yang
menjual enam bulan lalu ini juga ada bel listrik yang kerap digunakan di
sekolah tempo dulu. Harganya lumayan. Rp500 ribu. “Masih bisa ditawar,
Bu,” ujar Neneng yang mencari barang-barang kuno itu hingga ke Selayar,
Kalimantan dan Pulau Jawa.
Tempat lilin warna abu-abu juga tersedia. Harganya pun Rp250 ribu. Di
tempat Neneng, juga ada lampu unik dan kuno. Seperti lampu kerajaan.
Menurut Neneng yang berjualan bersama suaminya ini, lampu-lampu tersebut
didapatkan dari Jawa. Setidaknya ada lima lampu yang dijejer di toko
sederhana yang terbuat dari kayu tersebut. “Lampu ini dari Jawa, katanya
yang sering digunakan orang kerajaan dulu,” beber Neneng.
Satu lampu yang bisa ditarik ke atas dan ke bawah dihargai Rp1,7 juta
hingga Rp2 juta lebih. Jika berminat, Anda masih menawarnya.
“Barang-barang di sini bisa ditawar. Bagi pemburu barang antik dan kuno
harga itu tidak mahal. Pembeli saya ada dari berbagai daerah bahkan
banyakan turis,” beber wanita beranak dua ini dari Sunda ini.
Sebenarnya, Neneng masih punya teropong ala Popeye pelaut. Tapi
sayang, teropong itu sudah laku. “Baru saja diambil turis. Teropong mata
satu mirip Popeye,” ujar wanita asal Sunda ini.
Sama halnya dengan Neneng, pedagang barang kuno lainnya seperti
Herman dan Abdul juga mengakui barang antik tersebut banyak diminati
oleh turis lokal maupun mancanegara. Di toko milik Herman, tak hanya
menjual setrika tapi juga ada keramik biru asal China yang telah berusia
puluhan tahun.
“Ini keramik tahun 80-an. Guci ini juga,” ujar Herman seraya menunjuk
beberapa keramik tua yang terlihat cantik. Untuk mendapatkan barang
antik tersebut, ia biasa melancong ke luar daerah seperti Selayar dan
Kalimantan hingga ke Jawa. “Ada juga dari Sulawesi,” ujar Herman. Harga
keramik tersebut bervariasi. Bergantung dari usia dan asalnya. Harganya
berkisar Rp300 ribu hingga jutaan rupiah.
Bahkan di toko milik Abdul, tetangga toko Herman, ada keramik China
berukuran diameter sekira setengah meter. Warnanya biru dan putih
bergambar burung. Dari tekstur dan coraknya terlihat jelas usia keramik
tersebut sudah hampir seabad.
“Banyak keramik saya datangkan dari Selayar, Bugis dan Jawa. Kadang
saya pergi cari, kadang ada juga orang yang antar. Peminatnya banyak,
turis juga,” ujar Abdul, yang dulunya berprofesi sebagai sopir taksi
ini.
Selain keramik, juga ada gentong unik berwarna coklat dan lukisan.
Nah, bagi Anda pencinta benda-benda kuno, jalan-jalan ke Chairul Anwar
bisa Anda coba.
Sumber : Harian Fajar